Sabtu, 04 Desember 2010

Biodata Irfan Haarys Bachdim

Irfan Bachdim (lahir di Amsterdam, 11 Agustus 1988; umur 22 tahun) merupakan pemain sepak bola asal Belanda keturunan Indonesia, ia adalah pemain hasil naturalisasi yang dilakukan oleh PSSI bersama dengan Christian Gonzalez agar dapat memperkuat timnas Indonesia. Saat ini ia memperkuat Persema Malang di Liga Super Indonesia. Ia direkrut Pelatih Persema Timo Scheunemann bersama Kim Jefri Kurniawan. Pelatih Persema Malang itu tertarik ketika Irfan dan pemain muda berbakat Indonesia lainnya bermain di laga amal untuk tokoh sepakbola Lucky Acub Zaenal di Stadion Gajayana, Malang. Irfan sempat hampir membela tim sepak bola U-23 Indonesia di Asian Games 2006 - Qatar. Sayang, dia harus absen dari turnamen tersebut karena menderita cedera. Pada Bulan Juli 2009 dia ditransfer tanpa biaya ke klub HFC Haarlem.

Dalam bermain ia bisa menempati berbagai posisi, ia dapat menempati posisi striker, gelandang maupun sayap. Irfan mengikuti jejak ayahnya, Noval Bachdim yang sebagai pemain Persema Malang di era 80-an. Keluarga besar dari ayahnya kini masih tinggal di Lawang, Kabupaten Malang. Irfan saat ini tergabung dalam timnas Indonesia asuhan Alfred Riedl untuk Piala AFF 2010. Debut pertama bersama timnas Indonesia ia awali ketika timnas menang 6-0 di laga persahabatan melawan Timor Leste, di Palembang pada 21 November 2010.

Informasi pribadi
Nama lengkap : Irfan Haarys Bachdim
Tanggal lahir : 11 Agustus 1988 (umur 22)
Tempat lahir : Amsterdam, Belanda
Tinggi : 1.72 m (5 ft 8 in)
Posisi bermain : Gelandang, Striker

Informasi klub
Klub saat ini : Persema Malang
Nomor : 10
Klub junior
1999-2001 : Ajax Amsterdam
2002 : SV Argon
2003-2007 : FC Utrecht

Klub senior
Tahun Klub Tampil (Gol)
2008-2009 FC Utrecht 1 (0)
2009 HFC Haarlem 0 (0)
2010 Persema Malang 6 (3)

Tim nasional
2010- Flag of Indonesia. 3 (1)

1 Penampilan dan gol di klub senior
hanya dihitung dari liga domestik dan
akurat per 23 November 2010.
2 Penampilan dan gol di tim nasional
akurat per 1 Desember 2010.

IRFAN HAARYS BACHDIM 1

Bachdim Cetak Gol, 4-0 untuk Indonesia
Sabtu, 04 Desember 2010 | 20:43 WIB
KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI
Ekspresi pemain Indonesia, Irfan Haarys Bachdim, usai mencetak gol pada pertandingan Piala Suzuki AFF 2010 melawan Laos, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (4/12/2010). Pertandingan ini berakhir 6-0 untuk kemenangan Indonesia.

JAKARTA, Kompas.com - Irfan Bachdim membuat Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, semakin bergemuruh. Dengan ketenangan dan skillnya, pemain keturunan ini membobol gawang Laos pada menit ke-61, yang membuat Indonesia semakin menjauh dari kejaran Laos karena memimpin 4-0, dalam lanjutan penyisihan Grup A Piala AFF, Sabtu (4/12/10).

Ini merupakan gol kedua Bachdim bersama tim "Merah Putih". Sebelumnya, dia juga menutup pesta gol Indonesia atas Malaysia, Rabu (1/12/10), ketika tim besutan Alfred Riedl ini unggul 5-1.

Bachdim mengoyak jala Laos, setelah melakukan kerjasama satu-dua dengan pemain naturalisasi, Christian "El Loco" Gonzalez.

Kamis, 07 Oktober 2010

fushion 1

Buat cewe-cewe yang ga suka dengan model sepatu ceper tapi tetap pengen gaya, bisa coba pake sepatu-sepatu ber model kayak gini


Kamis, 02 September 2010

sekilas info

Yuk Jalan - Jalan Ke The Wizarding World of Harry Potter

Bertempat di Universal Studio Orlando, tanggal 18 Juni lalu Wahana Wisata Harry Potter yang diberi nama "The Wizarding World of Harry Potter" ini dibuka untuk menyapa dan mengobati kerinduan para penggemar film seri dan komik kisah penyihir cilik ini. Seperti apakah wahana Harry Potter ini, berikut suasana terakhir yang berhasil diabadikan.



































Sumber :
www.tongberisi.net

sekilas info

Gawat!! Bongkahan Gunung Es Antartika Mulai Mendekati Australia

Mungkin memang benar adanya bahwa pemanasan global itu nyata, dan dampak kerusakannya sudah ada didepan mata kita. Belum lama ini sebuah foto satelit menangkap sebuah bongkahan dari pecahan gunung es di Antartika (Kutub Selatan) telah hanyut hingga menuju perairan Australia sekitar Macquarie Island di ikuti 100 potongan es kecil menuju arah Selandia Baru.

Terhilah dari foto satelit bongkahan gunung es yang sangat besar terlepas dari Antartika dan menuju utara ke arah Australia Terlihat dari foto satelit bongkahan gunung es yang sangat besar terlepas dari Antartika dan menuju utara ke arah Australia

Yang paling membuat kita merasa miris mendengarnya adalah besarnya bongkahan gunung es yang larut terbawa arus tersebut besarnya setara dengan 2 kali luas Hongkong. Ini benar-benar mengkuatirkan banyak pemerhati lingkungan.

Seorang Ahli Gunung Es Glaciologist Neal Young dikutip AFP mengatakan hal ini pernah terjadi dahulu kala, namun saat ini siklus ini terjadi kembali. Hongkong Memiliki Luas 49 km persegi, sedangkan bongkahan gunung es tersebut memiliki panjang hingga 19, 2 (hampir 20 km) dengan lebar 5 km, jadi dengan kata lain besarnya hampir sama dengan 2 kali luas wilayah Hongkong bukan?

Bongkahan gunung es terbawa arus di ikuti dengan ratusan potongan-potongan es lainnya Bongkahan gunung es terbawa arus di ikuti dengan ratusan potongan-potongan es lainnya

Bongkahan es raksasa yang jumlahnya ratusan bergerak dari Antartika menuju pulau-pulau di Selandia Baru. Bongkahan es yang besarnya seperti stadion itu dikhawatirkan Pemerintah Selandia Baru mengancam pelayaran. Hasil pemotretan satelit menunjukkan, bongkahan besar es baru saja melewati kawasan pulau Auckland dan menuju pulau utama South Island, sekitar 450 kilometer arah timur laut.

”Peringatan berlaku bagi semua kapal di kawasan itu agar waspada terhadap keberadaan bongkahan es,” kata juru bicara kelautan Selandia Baru, Ross Henderson, seperti dilaporkan AFP. Keberadaan bongkahan es dalam kelompok besar itu disampaikan ahli gletser dari Divisi Antartika Australia.

Mereka terus memantau pergerakan bongkahan-bongkahan es tersebut. Menurut mereka, bongkahan es itu merupakan bagian dari bongkahan raksasa yang Oktober lalu terlihat di sekitar Pulau Macquarie, Australia.

Saat itu, dua bongkahan besar yang pertama selebar dua kilometer dan kedua sebesar stadion olimpiade ”sarang burung” Beijing terpantau di sana. Sementara itu, yang terpantau menuju Selandia Baru hari Senin lalu sudah terpecah-pecah dalam berbagai ukuran.


Beberapa di antaranya memiliki lebar 200 meter. ”Semua berasal dari satu bongkahan besar, yang mungkin luasnya 30-an kilometer persegi di Antartika sana,” kata salah satu ahli gletser, Neal Young. Meningkatnya suhu global dan muka laut karena pemanasan global dituding sebagai penyebabnya.



Setelah tiga tahun Menurut Neal Young, bongkahan es dalam jumlah besar terakhir terlihat mengapung di dekat Selandia Baru pada tahun 2006 lalu. Saat itu, hanya berjarak 25 kilometer dari garis pantai, kejadian pertama setelah tahun 1931.

”Yang terlihat saat ini memiliki jalur pergerakan yang sama menuju Selandia Baru. Apakah menuju South Island, sulit mengatakannya,” kata dia. Namun, ia yakin akan semakin sering melihat kejadian serupa bila suhu global terus meningkat.

Sejumlah ahli tidak yakin akan hal ini. Berkurangnya luasan es Antartika di Kutub Selatan telah teridentifikasi beberapa tahun terakhir. Namun, berkurangnya lapisan es di kawasan Antartika timur dalam jumlah besar, selama tiga tahun terakhir, dinilai para ahli sebagai ”kejutan”. Tidak seperti lapisan es di Antartika barat, yang selama ini dikenal rentan dan tidak stabil, lapisan es di Antartika timur dikenal sangat stabil.

Namun, sejumlah ahli belum meyakini fenomena itu terkait erat dengan perubahan iklim. Prediksi kerugian Di tengah pro-kontra lelehan es di kutub sebagai dampak pemanasan global, sebuah studi diluncurkan WWF di Swiss, Senin lalu. Banjir besar diperkirakan akan melanda kota-kota pelabuhan utama di dunia dan menimbulkan kerugian hingga 28 triliun dollar AS pada tahun 2050.

Posisi geografis Indonesia tergolong rentan dengan dampak langsung kerusakan Kutub Selatan AntartikaPosisi geografis Indonesia tergolong rentan dengan dampak langsung kerusakan Kutub Selatan Antartika

Apakah ini pertanda bumi kita sudah benar benar memanas sehingga Es di kutub sudah banyak yang mencair, lalu apa nyata dari para pemimpin dunia untuk mengatasi ini? Apakah cukup hanya dengan mengadakan pertemuan seperti yang dilakukan di Kopenhagen beberapa hari lalu?

Jawabnya adalah langkah kongkret dan nyata penyelamatan lingkungan seperti pengurangan emisi gas buang dan kebijakan yang mendukung secara nyata penyelamatan bumi kita ini.

Yang agak sedikit membuat kita kuatir juga karena letak Indonesia terutama Pulau Jawa dan Sumatera langsung berseberangan dengan Antartika walau jaraknya sangat jauh karena letaknya dipisahkan Samudera Hindia, namun pastinya ada dampak nyata bila memang terjadi kerusakan kronis di kutub dimana cadangan air (yang beku) sangat besar sekali jumlahnya di benua es tersebut.

Selamatkan bumi kita!! Hijaukan lingkungan sekitar kita . . .

Sumber :
ruanghati.com

sekilas info

Semut Dapat Mencium Kematian


Ketika seekor semut mati, teman satu sarangnya dengan segera mengevakuasi dan menyingkirkannya. Dengan begitu, risiko koloni tersebut terinfeksi suatu wabah penyakit dapat diminimalisir.


http://ibnismail.files.wordpress.com/2009/03/semut1.jpg


Tetapi bagaimana mereka mengetahui rekannya sudah mati? Ada teori yang menyebutkan bahwa semut mati melepas zat kimia yang dihasilkan oleh pembusukan, semisal asam lemak. Bau zat kimia itu menjadi pertanda kematian mereka bagi koloni semut yang masih hidup.



Kini ahli serangga yang meneliti semut Argentine, serangga galak yang sangat teritorial, menyodorkan bukti adanya mekanisme lain di balik necrophoresis, pembuangan anggota koloni yang mati.

Semua semut, baik hidup maupun mati, memiliki "zat kimia kematian", namun semut hidup mempunyai zat kimia lain yang diasosiasikan dengan kehidupan, yaitu "zat kimia kehidupan." Ketika seekor semut mati, zat kimia kehidupannya memudar atau terurai, dan hanya zat kimia kematian yang tersisa.

"Itu karena semut mati tidak lagi tercium seperti semut hidup sehingga langsung diangkut ke kuburan, bukan karena tubuhnya mengeluarkan zat kimia unik baru yang terbentuk setelah dia mati," kata Dong-Hwan Choe, peneliti utama riset di University of California, Riverside, Amerika Serikat.

Temuan Dong-Hwan Choe dipublikasikan dalam jurnal online Proceedings of the National Academy of Sciences. "Memahami mekanisme yang tepat tentang necrophoresis semut dapat membantu para peneliti mengembangkan strategi manajemen hama yang ramah lingkungan sehingga mencapai hasil maksimal dengan jumlah insektisida lebih sedikit," kata Choe.

Studi terhadap semut Argentine yang dilakukan Choe dan timnya mengindikasikan bahwa sesama penghuni sarang mendistribusikan insektisida yang bekerja lambat dan non-repellent yang efisien di antara mereka lewat necrophoresis.

�Ketika seekor semut yang terpapar insektisida itu mati di dalam sarang, semut lainnya akan menggotong jasadnya berkeliling, dan insektisida pun dengan mudah tersebar dari mayat semut kepada semut sehat,� ujarnya.


Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/sains/2009/05/07/brk,20090507-174961,id.html